Eksklusif-news.com, SIANTAR
Keluhan masyarakat Pamatang, Kelurahan Simalungun, Kecamatan Siantar Selatan terkait drainase atau parit yang sering tidak berfungsi, membuat anggota DPRD Pematangsiantar, Franz Theodor Sihaloho berusaha berjuang mencari solusi terbaik.
Bahkan, pernyataan itu disampaikannya di sela-sela Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) No 3 Tahun 2023 tentang Insentif Tenaga Pendidik pada Pendidikan Nonformal Bidang Keagamaan No 2 Tahun 2026. Berlangsung di halaman Perumahan Obor, Jalan Pamatang, Kelurahan Simalungun, Kecamatan Siantar Selatan, Rabu (12/8/2025).
“Soal seringnya parit tidak berfungsi itu, saya terus perjuangkan dengan melakukan koordinasi dengan Pemko Pematangsiantar melalui dinas terkait. Termasuk kepada Lurah dan Camat. Karena, itu sangat prioritas,” kata Franz di hadapan ratusan peserta Sosper.
Politisi Partai Hanura itu menjelaskan masyarakat memang banyak mengeluh soal parit yang kalau tidak berfungsi. Sehingga, limbah rumah tangga khususnya dari WC menjadi mengendap karena saluran air warga langsung ke parit dimaksud.
Lebih lanjut dijelaskan, sebelum Sosper dilakukan, Franz langsung mengajak pihak Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Kepala Bidang Guntur Damanik untuk meninjau lokasi.
Kemudian, ada solusi terbaik dengan memasang pipa dari sungai Bah Bolon yang mengarah kepada parit yang bersebelahan dengan pintu air bendungan PT Pabrik Es.
“Kita mengetahui, kalau bendungan ditutup untuk pembersihan atau pintu airnya rusak, bendungan menjadi kering dan air tidak mengalir ke drainase. Kalau pipa sudah dipasang, tentu tidak masalah lagi,” ujar Franz.
“Soal drainase itu sudah saya ajukan kepada PUPR tahun 2024 dan tahun 2025. Tetapi karena ada keterbatasan anggaran apalagi banyak pembangunan yang lebih prioritas, akhirnya tidak terealisasi dan untuk tahun 2026 ini kembali saya ajukan,” kata Franz.
Harapannya, melalui Perubahan (P) APBD Pematangsiantar 2026 diusahakan agar anggarannya dapat ditampung. “Pokoknya, saya akan terus kejar karena Pamatang adalah kampung kelahiran saya dan saya harus memperjuangkan aspirasi masyarakat,” tegasnya.
Upaya yang telah diperjuangkan Franz agar drainase tersebut agar dapat berfungsi maksimal, juga dibenarkan Lurah Simalungun Rido Purba kepada masyarakat.
“Soal parit itu masalah lama dan tahun 2018 sudah bermasalah. Saat itu ada dana kelurahan Rp1,1 miliar. Tapi, tidak jadi diperbaiki karena ada pro kontra, akhir terkendala sampai sekarang,” kata Lurah.
Dijelaskan juga, pada Musrenbang dua tahun berturut-turut, masalah parit tersebut juga sudah diajukan kepada Pemko tetapi tidak juga dianggarkan. “Sekarang, anggota dewan kita kembali mengejar atau memperjuangkannya dan harapan kita tahun ini dapat direalisasi,” kata Lurah Rido Purba.
Sementara, Bakti Damanik sebagai Ketua LPM juga mengatakan soal drainase tersebut merupakan masalah lama. Selain kedalamannya semakin dangkal karena ada sampah maupun pasir yang mengendap akibat PT Pabrik Es membersihkan bendungan, sampah yang dibuang masyarakat begitu saja menjadi masalah.
“Pemasangan pipa dari sungai Bah Bolon agar air mengalir ke drainase merupakan solusi terbaik,” ujar Bakti Damanik yang juga berharap agar pipa yang panjangnya sekitar 200 meter dapat dipasang tahun 2026 ini.
Menurut sejumlah warga, apabila PT Pabrik Es mengeringkan bendungan atau pintu airnya rusak, memang muncul masalah apalagi itu berlangsung berhari-hari. Bahkan, sempat sampai dua minggu. Tinja mengendap di dalam parit dan menimbulkan bau tak sedap.
“Jadi, baguslah kalau dipasang pipa,” ujar warga yang mengaku mendukung Frans Theodore Sialoho untuk memperjuangkan pemasangan pipa dari sungai Bah Bolon ke drainase . (nas)
